Rabu, 13 September 2017

SLOGANISME PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA

Sudah bosan saya dengan slogan. Mendengarkan slogan tidak bedanya dengan mengingat kembali bagaimana cara lelaki playboy memikat wanitanya dengan rayuan gombal. Kira-kira apa bedanya slogan dan rayuan gombal? Keduanya sama-sama menggunakan kata-kata sebagai senjata ampuh penakluk target. Walaupun demikian, kata-kata itu belum tentu bisa diakui dan mampu dipertanggungjawabkan kebenaran dan keabsahannya. Permainan kata-kata di slogan maupun rayuan gombal banyak dianggap sebagai momok yang tak pernah hilang dari kehidupan masyarakat di Indonesia.
            Hal itu kemudian saya tarik lagi lebih dalam di dalam pendidikan Indonesia yang cenderung labil dan mudah berubah. Bayangkan saja, baru beberapa tahun silam saya mendengar munculnya sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), lalu muncul Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kemudian muncul Spektrum yang belum lama ini lebih menekankan Pendidikan Karakter. Jika sistem pendidikan begitu mudah berubah, apa sebetulnya pencapaian yang ingin didapatkan dari setiap kurikulum tersebut? Jawabannya tetap selalu abu-abu, selayaknya anak remaja labil yang mudah berubah mengikuti arusnya. Tak beda dengan pendidikan di Indonesia, yang seakan-akan bergerak mengikuti arus jaman, tanpa arah yang terarah, jelas, dan implementatif.
            Perkembangan yang cukup signifikan terlihat di dalam pendidikan Indonesia adalah maraknya pendidikan yang berpusat pada anak. Metode ceramah yang dulu menjadi sebuah metode utama dalam kegiatan belajar mengajar tidak lagi menjadi acuan utama di dalam konsep pembelajaran saat ini sejak munculnya kurikulum Kurikulum berbasis Kompetensi. Siswa lebih dituntut untuk aktif, kreatif dan kritis di dalam menghadapi sesuatu. Di dalam perkembangannya, konsep pendidikan yang berpusat pada anak kemudian memunculkan konsep baru bernama “Pendidikan Karakter”, sebuah konsep, slogan, yang membawa misi ingin membangun karakter bangsa yang berjiwa kebangsaan dan mandiri.
            Pertama kali mendengar istilah pendidikan karakter, saya langsung berpikir, slogan apa lagi yang ingin pemerintah jual dengan konsep baru yang belakangan menjadi momok dan arogansi baru bagi para guru. Awalnya memang saya tidak cukup peduli dengan keberadaan Pendidikan Karakter di Indonesia, namun setelah saya mengalami sendiri bagaimana seorang guru harus menggunakan “Pendidikan Karakter” di dalam penyusunan perangkat pembelajarannya, barulah saya membuka mata saya untuk menelaah lebih lanjut lagi, apa gunanya slogan ini? Kenapa saya katakan slogan? Karena menurut saya ini hanya sebagai sebuah kampanye pendidikan yang seakan-akan memiliki masa depan paling cerah dibandingkan yang lainnya tanpa tujuan dan arah yang jelas.
            Pendidikan karakter mengutamakan pembinaan karakter siswa untuk dapat dijadikan sebagai siswa yang berjiwa kebangsaan dan berwirausaha. Terdapat 18 karakter yang kemudian menjadi acuan para guru di dalam menyusun silabus. 18 karakter yang hanya berkata-kata itu harus tertuliskan dengan pasti sesuai dengan tujuan dan indikator yang telah direncanakan di dalam silabus. Karakter-karakter tersebut kemudian diuraikan lagi di dalam nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa dan nilai pendidikan kewirausahaan. Setiap Kompetensi dasar yang dituliskan harus memuat sejumlah karakter yang sesuai. Lalu pertanyaan berikutnya, apa fungsinya? Tanpa keberadaan karakter-karakter tersebut, sudah banyak guru yang secara tidak langsung sudah menggunakan penggalian potensi siswa berdasarkan karakter-karakter tersebut. Penguraian definitif yang dilakukan pemerintah ini sama saja seperti mengunci kreatifitas guru dengan arogansi sistem yang membatasi geraknya. Itulah mengapa saya sangat menganggap bahwa semua konsep dan temuan pemerintah tentang Pendidikan Karakter tidak lebih hanya sekadar slogan. Segala hal yang terlalu definitif seringkali tidak cukup implementatif dalam pengaplikasiannya.
            Sejauh melihat perkembangan pendidikan di Indonesia, berpacu dari slogan atau istilah yang kemudian saya simpulkan sendiri “Sloganisme”, pemerintah tidak pernah melihat dan memperhatikan gambaran hasil dari setiap langkah yang ditapaki. Akhirnya banyak orang yang beranggapan bahwa ini hanyalah bagian dari ‘proyek’ kementrian pendidikan di dalam memanfaatkan segala kemungkinan yang terjadi. Kondisi demikian yang kemudian menjadi “pengrusak” mental pendidik dan sederet jajaran birokrasinya. Pendidikan bukan permainan, yang bisa dicoba-coba seenaknya agar menang. Pendidikan membutuhkan pemikiran dan waktu khusus di dalam mengolahnya, sehingga bisa mendapatkan hal yang memang benar-benar sesuai dengan karakter bangsa. Jika kita terus menerus terkurung dalam permainan kata-kata, kita tidak akan tau bagaimana rasa dan nikmatnya melakukan sesuatu tanpa banyak kata.
            Pendidikan Indonesia sudah terlanjur tidak menampakkan kepercayaan di mata elemen yang bersangkutan di dalamnya. Namun Pendidikan Indonesia masih menyimpan sejuta harapan demi kemajuan intelektual siswa-siswi di Indonesia.  Sloganisme yang terjadi di Indonesia akan tetap selalu menjadi slogan, karena darah dan benang masa sebelumnya belum putus untuk bisa menyambungnya dengan benang yang baru dan lebih kuat. Sehingga tinggal bagaimana pelaku pendidikan ini mampu memanfaatkan kondisi yang banyak kekurangan ini untuk menghasilkan hasil yang tetap maksimal tanpa harus merasakan bagaimana tekanan arogansi berbagai sistem baru yang berubah itu. Pendidikan bukan hanya sekadar kata-kata, pendidikan adalah implementatif. (*Swara-2012)


            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar