Rabu, 13 September 2017

Kegelisahan Musik anak dibalik Dominasi Industri Musik Indonesia

Oleh Gema Swaratyagita

Musik anak. Apa pendapat anda mengenai musik anak? Ada beberapa anggapan masyarakat yang mendefinisikan musik anak. Pertama, musik anak bisa merupakan musik ciptaan yang memiliki tema lagu anak-anak seperti lagu-lagu ciptaan Bu kasur, AT Mahmud yang pada masanya sangat intens dan konsisten menciptakan lagu-lagu bertemakan kehidupan anak-anak, dan pendidikan anak yang juga mencakup alam dan banyak hal di sekitar kita. Kedua, musik anak juga dapat didefinisikan sebagai musik yang dinyanyikan anak-anak dengan bebas tema, seperti yang dilakukan sejumlah stasiun TV dalam ajang kontes menyanyi anak-anak beberapa tahun belakangan ini. Mereka mungkin hanya menggunakan simbol "anak-anak" sebagai media untuk mengangkat musik anak, dan menempatkan musik sebagai pelengkap komunikasi verbal.  Lalu, dimanakah seharusnya anak-anak memaknai musik anak yang sebenar-benarnya. Masih perlukah pemerataan pemahaman mengenai musik anak di era globalisasi dan industri sekarang ini? Atau, justru hal tersebut hanyalah sekadar wacana yang tak pernah terjawab oleh masyarakat pada umumnya? Kita mungkin bisa menjawabnya satu persatu, mungkin juga tidak, karena tetap saja wacana tersebut tetap menjadi wacana jika seluruh pelaku seni yang ada di dalamnya tidak melakukan langkah dan upaya untuk menjawab maupun memperbaiki ketimpangan serta keraguan mengenai musik anak. Sebelum kita membahas lebih jauh lagi mengenai musik anak, hendaknya kita memahami terlebih dahulu perjalanan singkat musik anak di Indonesia untuk menemukan dimanakah letak ketimpangan yang terjadi dalam musik anak Indonesia.  

Musik anak dalam riwayatnya. Awal mula perkembangan musik anak di Indonesia belum ditemukan secara mendetail di setiap era-nya, bahkan sepertinya belum menjadi bagian yang penting untuk diteliti bagi sejumlah kalangan. Namun jika kita mulai melihat di era-1980-an dan 1990-an, terdapat beberapa generasi penyanyi anak yang cukup eksis dan memberikan pengaruh dan warna yang cukup besar di dunia musik Indonesia. Terhitung artis cilik tahun 1980-an seperti Ira Maya Sopha, Adi Bing Slamet, atau Cica Kuswoyo sangat mendominasi dunia anak pada jamannya. Sedangkan pada tahun 1990-an, artis cilik seperti Eno Lerian, Bondan Prakoso, Cikita Meidy, Tasya, Sherina atau Joshua juga mendominasi musik anak pada waktu itu. Kehadiran mereka pada masa itu membuat anak-anak begitu mencintai dunia anak yang sesungguhnya. Musik dan lirik yang mereka nyanyikan benar-benar menggambarkan dunia anak yang begitu dekat dengan kegembiraan, permainan, dan sangat edukatif untuk perkembangan mereka. Namun bagaimana jika kondisi tersebut dibandingkan dengan perkembangan musik anak di tahun 2000-an? Mari kita lihat perbedaannya lebih lanjut.

Pada musik anak era tahun 2000-an, keberadaan musik anak hanya bertahan di awal tahun  2000 melalui debut album dan film Petualangan Sherina. Sewaktu peluncuran album Sherina, industri musik dan banyak media masih sangat menempatkan musik anak sebagai bagian penting dalam perkembangan musik di Indonesia sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun beberapa tahun kemudian, sedikit demi sedikit, animo masyarakat terhadap musik anak di Indonesia berangsur berkurang. Bahkan beberapa tahun belakangan ini, keberadaan penyanyi cilik tidaklah beda dengan penyanyi remaja dan dewasa pada umumnya, terutama dalam penguasaan lagu dan tema yang digunakan. Salah satunya bisa dilihat dari sejumlah kompetisi penyanyi cilik di Indonesia. Kebanyakan dari mereka lebih leluasa dan menguasai musik masa kini yang bertemakan cinta sepasang kekasih, perselingkuhan, patah hati, dan lain-lain. Sekalipun terdapat beberapa artis cilik yang mengeluarkan album, kebanyakan dari mereka justru bermasalah dengan kualitas dan kuantitas. Jika berbicara mengenai kualitas, berarti kita juga berbicara mengenai isi materi lagu dan kualitas suara sang penyanyi. Sedangkan berbicara mengenai kuantitas, berarti kita berbicara mengenai jumlah penjualan album. Kedua hal tersebut masih belum dirasakan mencapai hasil yang maksimal, bahkan mungkin saling tumpang tindih satu sama lainnnya. Misalnya saja, ada seorang artis cilik yang memiliki modal dana yang cukup. Melalui album yang dikeluarkan, bahkan ia sudah berhasil mengeluarkan video klip, namun terkadang terdapat sejumlah kelemahan yang dinilai menjadi hambatan ter-blow-up-nya penyanyi cilik tersebut, seperti misalnya kualitas suara maupun lagu dan aransemennya. Sedangkan, terdapat sejumlah artis cilik lainnya yang memiliki kualitas suara dan materi lagu yang bagus, namun tidak memiliki modal materi yang cukup untuk bisa mengeluarkan album. Oleh karena itu, sudah selayaknya kedua hal tersebut bisa diseimbangkan, sehingga kualitas dan kuantitas menjadi pendukung utama keberhasilan sebuah album musik.

Berbeda dengan album musik pop pada umumnya, musik anak memiliki segmen tersendiri di kalangan anak-anak maupun masyarakat, dan tidak bisa begitu saja disama-ratakan dengan musik popular lainnya. Sehingga salah satu cara yang dianggap ampuh untuk kembali mengangkat musik anak  adalah berusaha melahirkan kembali penyanyi anak yang memiliki kualitas mumpuni baik dari segi kualitas suara, materi lagu, maupun aransemennya agar dapat mampu bersaing dalam industri musik. Oleh karena itu, sudah selayaknya orangtua, produser, songwriter, arranger maupun manajemen artis bisa saling bersinergi untuk dapat mewujudkan kembali membuminya musik anak di Indonesia.


Selain melahirkan penyanyi anak, upaya berikutnya yang harus dilewati adalah memperjuangkan eksistensi musik anak Indonesia dibalik dominasi industri musik Indonesia. Tidak disalahkan juga bahwa industri musik mengutamakan pasar, sehingga seringkali wadah untuk menyalurkan musik anak dinilai sangat kurang.  Mungkin di sejumlah stasiun TV sudah mulai banyak muncul kontes menyanyi anak yang memunculkan banyak penyanyi cilik baru yang berkualitas, namun jika kita menilik lebih lanjut, hal tersebut tidak diimbangi dengan terdapatnya wadah acara musik anak di sejumlah media baik TV maupun radio. Pada kenyataannya, memang terdapat sejumlah stasiun TV yang sudah menampilkan jenis musik anak, namun masih memiliki rating yang tidak cukup mendominasi di masyarakat. Oleh karena itu, kita harus terus berjuang mempertahankan eksistensi musik anak tanpa menghilangkan esensi yang sebenarnya. Sehingga musik anak dapat menjadi wadah yang terbaik untuk apresiasi anak-anak, pendidikan, pengetahuan hingga pembentukan kepribadian anak. (*Swara-2010)

catatan : Tulisan ini dibuat untuk sebuah ceramah diskusi, mengawali sebuah peluncuran album anak berjudul "Just Sing", dengan penyanyi Patricia Limawal di Pontianak tahun 2010. Saya memunculkan lagi tulisan ini, karena saya merasa bahwa tulisan ini pun masih sangat relevan di masa sekarang ini, yang masih membawa keresahan untuk kemajuan musik anak di Indonesia. 

Official video Just Sing oleh Patricia Limawal (2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar